Beda Masakan Indonesia dan Masakan Asing

Kita sangat beruntung karena sudah dilahirkan dan dibesarkan di Indonesia. Bagaimana tidak? Negeri kita tercinta ini mempunyai ragam kuliner yang banyak sekali. Setiap daerah di Bumi Nusantara mempunyai masakan khas yang unik dan berbeda-beda. Beberapa masakan yang sudah terkenal di antaranya lumpia dari Semarang, gudek dari Yogyakarta, peuyeum dari Bandung, rawon dari Surabaya, kerak telur dari Jakarta, pempek dari Palembang, sup konro dari Makassar, papeda dari Papua, dan masih banyak lagi.

Pada dasarnya, semua masakan Indonesia diolah menggunakan bumbu dan rempah-rempah. Bumbu adalah bahan penyedap masakan yang bersifat basah seperti bawang putih, bawang merah, daun salam, jeruk nipis, jahe, serai, lengkuas, dan lain-lain. Sedangkan rempah-rempah ialah bahan penyedap masakan yang bersifat kering contohnya lada, ketumbar, kemiri, pala, cengkih, kapulaga, kayu manis, dan sebagainya. Hal ini berbeda dengan kebanyakan masakan-masakan asing, khususnya masakan kontinental. Pembuatan masakan tersebut biasanya cukup memakai rempah-rempah.

perbedaan-masakan-indonesia.jpg

Selain dari segi pengolahannya, perbedaan antara masakan Indonesia dan masakan asing juga terdapat pada cara penyajiannya. Masakan Indonesia secara umum disajikan langsung bersama-sama. Tidak dikenal adanya makanan pembuka, makanan utama, atau makanan penutup di sini. Yang ada hanyalah makanan pokok, lauk-pauk, dan sayuran. Ini artinya Anda bebas menikmati setiap masakan yang sudah tersaji sesuai selera. Semua makanan tersebut saling melengkapi satu sama lain.

Berbeda sekali dengan masakan asing, terutama masakan-masakan yang berasal dari wilayah Eropa dan Amerika Serikat. Masakan yang berasal dari kedua daerah ini sudah dikelompokkan secara baku menjadi 3-5 kelompok. Mayoritas masyarakat hanya mengenal 3 kelompok makanan yaitu makanan pembuka, makanan utama, dan makanan penutup karena inilah yang biasa mereka nikmati sehari-hari. Rangkaian makanan yang terdiri dari 4 atau 5 kelompok hanya dinikmati pada saat acara-acara yang bersifat formal.

  1. Makanan Pembuka

Makanan pembuka bertujuan untuk menggugah nafsu makan setiap orang. Makanan ini disajikan pertama kali. Hidangan pembuka harus memiliki cita rasa yang pas dari perpaduan salt (asin) dan sour (asam). Ada makanan pembuka yang dihidangkan dalam kondisi panas seperti sup dan krim. Ada pula makanan pembuka yang dihidangkan saat kondisinya dingin seperti salad sayur, salad buah, dan salad ikan.

  1. Makanan penyela

Makanan penyela disajikan setelah makanan pembuka dan sebelum makanan utama. Makanan ini berguna untuk menambah selera makan, mengisi perut agar tidak terlalu kosong, serta menyesuaikan lidah supaya siap menyantap hidangan utama. Makanan utama ini biasanya berupa jajanan, camilan, atau kudapan ringan yang memiliki rasa cenderung asin dan agak manis. Contoh makanan penyela antara lain kroket, risoles, dan puding buah.

  1. Makanan Utama

Ini merupakan hidangan utama yang akan dinikmati. Makanan utama setidaknya terdiri dari tiga jenis masakan yaitu karbohidrat, protein, dan sayuran. Karbohidrat yang digunakan misalnya roti gandum, nasi dari beras putih atau beras merah, kentang, atau pasta. Sementara masakan proteinnya berupa protein hewani seperti daging, ikan, dan telur, serta protein nabati yang meliputi tofu dan jamur. Kemudian untuk sayurannya dapat dimasak melalui proses tumis, rebus, kukus, panggang, atau bakar. Biasanya disajikan pula saus sebagai pelengkap sajian.

  1. Makanan Penutup

Makanan penutup disajikan paling akhir setelah masakan utama habis disantap. Masakan penutup mempunyai rasa yang dominan manis. Dengan demikian, semua orang pasti sangat menyukainya dan timbul rasa kepuasan diri setelah menikmati makanan penutup ini. Hidangan penutup dapat disajikan dalam keadaan panas, dingin atau beku. Adapun contohnya antara lain pie buah, sus vla, bubur, pancake, dan es krim.